JAKARTA – Ketua Umum Gerakan Santri Madura, Ach Sayuti menyampaikan keprihatinan atas munculnya pernyataan-pernyataan provokatif oleh seorang oknum pemuka agama yang cenderung menyerang pribadi dan merendahkan tokoh bangsa di ruang publik.
Menurutnya, kritik dalam demokrasi merupakan hal yang wajar dan bagian dari kebebasan berpendapat. Namun, kritik harus disampaikan dengan cara yang santun, bermartabat, dan tetap menjaga persatuan nasional.
“Kami menghormati kebebasan berbicara dalam negara demokrasi. Akan tetapi, kritik yang menjatuhkan kehormatan seseorang, termasuk kepada Jenderal Dudung Abdurachman maupun tokoh bangsa lainnya, bukanlah contoh pendidikan politik yang baik bagi masyarakat,” ujar Ach Sayuti, Rabu (6/5/2026).
Ia juga menegaskan bahwa sangat tidak pantas apabila kritik kasar, ujaran bernada merendahkan, maupun bahasa-bahasa yang tidak layak justru keluar dari seorang tokoh agama yang seharusnya menjadi teladan moral dan penyejuk di tengah masyarakat.
“Tokoh agama memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga tutur kata dan persatuan umat. Bahasa yang kasar dan tidak layak dikonsumsi publik, terlebih oleh generasi muda dan anak-anak bangsa, berpotensi memberikan contoh yang buruk dalam kehidupan berdemokrasi,” tegasnya.
Ach Sayuti menilai, ruang publik saat ini membutuhkan keteduhan, edukasi, serta narasi kebangsaan yang mempersatukan, bukan justru mempertontonkan permusuhan dan caci maki yang dapat memperkeruh suasana nasional.
“Kita boleh berbeda pandangan politik, tetapi jangan sampai perbedaan itu melahirkan ujaran yang memecah persaudaraan sesama anak bangsa,” pungkasnya.









