Sidoarjo — Badan Gizi Nasional (BGN) secara resmi menyampaikan permohonan maaf atas kasus keracunan massal yang menimpa ratusan santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, usai mengonsumsi menu Makan Bergizi Gratis (MBG).
Permintaan maaf disampaikan langsung Wakil Ketua BGN Mayjen TNI (Purn) Trenggono saat mengunjungi lokasi kejadian pada Jumat, 4 September 2026. Ia ditemani Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifatul Choiri Fauzi serta jajaran terkait, dan disambut Pengasuh Ponpes Manbaul Hikam KH Abdul Wahid Harun.
“Kami sampaikan permohonan maaf atas mungkin kelalaian ataupun ketidakpatuhan petugas dapur dalam mengoperasikan sehingga adanya kejadian fatal,” ujar Trenggono.
Menurut data Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo, total korban mencapai 748 orang. Mereka terdiri dari santri Ponpes Manbaul Hikam dan pelajar dari 19 lembaga pendidikan di kawasan Kali Tengah. Gejala yang dialami meliputi mual, muntah, dan pusing setelah menyantap menu pada Selasa (1/9) siang yang terdiri dari nasi putih, orak-arik telur, tempe bumbu bali, sayur tumis buncis baby corn, dan buah apel.
Hingga Jumat pagi, mayoritas korban sudah kembali kepondok. Hanya tersisa sekitar 20-22 orang yang masih menjalani perawatan di sembilan rumah sakit atau fasilitas kesehatan, dengan kondisi yang dilaporkan sudah membaik.
Trenggono menjelaskan, dugaan awal mengarah pada kelalaian dan ketidakpatuhan petugas dapur Satuan PelayananPemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah Tanggulangin terhadap standar operasional prosedur (SOP). Ia menegaskan bahwa SOP program MBG sudah sesuai, namun pelanggaran di lapangan menjadi penyebab kejadian.
Sebagai tindak lanjut, BGN segera menghentikan operasional dapur SPPG Kalitengah dan mencopot kepala dapur (KepalaSPPG) Rafli Ridho dari jabatannya. “Begitu kejadian, dapurnya tidak dioperasionalkan dan kepala dapurnya dicopot,” tegas Trenggono.
Sanksi lebih lanjut, termasuk kemungkinan proses hukum, akan disesuaikan jika ditemukan unsur kesengajaan atau kelalaian serius. Sebelumnya, Kepala BGN Sudaryono sempat menyebut kejadian ini sebagai “kelalaian yang disengaja”, terkait pelabelan waktu matang dan pengiriman makanan yang terlambat sehingga dikonsumsi jauh melewati batas aman.
BGN menegaskan terus melakukan evaluasi dan perbaikan tata kelola program MBG secara menyeluruh. “Kita terus memperbaiki tata kelola. Kita terus mengevaluasi apa saja kekurangannya,” kata Trenggono.
Kasus ini menjadi salah satu dari sejumlah insiden keracunan terkait program MBG di berbagai daerah. Pemerintah daerah dan BGN memprioritaskan pemulihan kesehatan korban serta menjamin tidak ada korban jiwa.
Rafli Ridho sebelumnya telah menyampaikan penyesalan dan permintaan maaf secara terbuka.












