Polhukam

Waspada Karhutla dan Kemarau Panjang, Permana Irmansyah Tekankan Mitigasi Berbasis Komunitas

×

Waspada Karhutla dan Kemarau Panjang, Permana Irmansyah Tekankan Mitigasi Berbasis Komunitas

Sebarkan artikel ini
Kebakaran Hutan dan Lahan -
Kebakaran Hutan dan Lahan. [Foto : DivHumas Polri]

MediaSiber.com, JAKARTA – Meningkatnya kerentanan terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) seiring datangnya musim kemarau kini menjadi sorotan tajam berbagai pihak. Kendati pemerintah telah mengintensifkan patroli terpadu serta memanfaatkan teknologi modern untuk mendeteksi titik panas, langkah represif semata dinilai belum cukup tanpa adanya keterlibatan publik yang masif.

Ketua Bidang Lingkungan dan Kebencanaan Barisan Insan Muda, Permana Irmansyah, menegaskan bahwa ketahanan daerah dalam menghadapi musim kering ekstrem tidak bisa hanya mengandalkan kebijakan makro dari pemerintah pusat. Menurutnya, kesiapsiagaan harus dibangun dari level akar rumput dengan melibatkan organisasi kepemudaan dan masyarakat luas.

Pakai Hosting Terbaik dan Harga Terjangkau
Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut

“Kesiapsiagaan harus dimulai dari tingkat lokal melalui konservasi sumber air, pengelolaan lahan berkelanjutan, hingga peningkatan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran,” tutur Permana.

Lebih lanjut, ia merinci bahwa upaya pencegahan karhutla yang efektif memerlukan pembentukan jejaring relawan lingkungan yang aktif, edukasi warga yang konsisten, serta pengawasan ketat terhadap tata cara pembukaan lahan. Di samping itu, pemulihan lingkungan secara berkelanjutan juga menjadi agenda yang tak kalah mendesak.

“Inisiatif penanaman pohon di kawasan hulu untuk memperbaiki tata air dan mengurangi erosi,” ujarnya, seraya mendorong gerakan reboisasi guna menjaga keseimbangan ekosistem hidrologi.

Urgensi langkah preventif ini kian nyata menyusul peringatan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang memproyeksikan potensi defisit curah hujan di sejumlah wilayah strategis, seperti Pulau Jawa, Nusa Tenggara, Sulawesi, dan Kalimantan.

Guna membentengi stabilitas nasional dari ancaman krisis pangan dan bencana, Permana menyerukan pentingnya soliditas koordinasi lintas sektor antara pemerintah pusat, daerah, komunitas, hingga petani.

“Kita harus menjaga ketahanan pangan melalui kolaborasi semua pihak, mulai pemerintah, petani, hingga komunitas lokal,” kata Permana, Selasa (4/8/2026).

Permana tetap menaruh optimisme tinggi bahwa jalinan sinergi yang kokoh antarberbagai elemen bangsa akan mampu meredam dampak buruk kemarau panjang. Ia juga mengingatkan agar instansi terkait terus memperkuat koordinasi penanganan darurat secara cepat dan efektif.

“Pencegahan harus menjadi prioritas utama karena dampaknya jauh lebih luas terhadap lingkungan maupun kesehatan masyarakat,” ujarnya.

Sebagai penutup, Permana kembali menggarisbawahi prinsip dasar dalam manajemen kebencanaan yang mengutamakan tindakan antisipatif ketimbang reaktif.

“Langkah pencegahan jauh lebih efektif dibandingkan penanganan setelah bencana terjadi,” tutupnya.